Manajemen karir mencakup berbagai konsep yang sampai saat ini masih
sering diperdebatkan definisinya. Meskipun demikian kita perlu
mengetahui dan memahami definisi berbagai konsep yang berhubungan dengan
manajemen kerier, agar kita mamiliki pemahaman yang lebih baik tentang
manajemen karir.
Dalam hal ini, ada beberapa kata kunci yang perlu dijelaskan, yaitu :
1. Karir
2. Jalur karir
3. Tujuan / sasaran karir
4. Perencanaan karir
5. Pengembangan karir
6. Manajemen karir
1. Karir
Para pakar lebih sering mendefinisikan karir sebagai proses suatu konsep
yang tidak statis dan final. Mereka cenderung mendefinisikan karir
sebagai “perjalanan pekerjaan seorang pegawai di dalam organisasi”.
Perjalanan ini dimulai sejak ia diterima sebagai pegawai baru, dan
berakhir pada saat ia tidak bekerja lagi dalam organisasi tersebut.
Haneman et al. (1983) mengatakan bahwa “Perjalanan karir seorang
pegawai dimulai pada saat ia menerima pekerjaan di suatu organisasi.
Perjalanan karir ini mungkin akan berlangsung beberapa jam saja atau
beberapa hari, atau mungkin berlanjut sampai 30 atau 40 tahun kemudian.
Perjalanan karir ini mungkin berlangsung di satu pekerjaan di satu
lokasi, atau melibatkan serentetan pekerjaan yang tersebar di seluruh
negeri atau bahkan di seluruh dunia”.
Konsep karir adalah konsep yang netral (tidak berkonotasi
positif atau negatif). Karena itu karir ada yang baik, ada pula karir
yang buruk. Ada perjalanan karir yang lambat, ada pula yang cepat.
Tetapi, tentu saja semua orang mendambakan memiliki karir yang baik dan
bila mungkin bergulir dengan cepat.
Karir dapat diletakkan dalam konteks organisasi secara formal, tetapi
karir dapat pula diletakkan dalam konteks yang lebih longgar dan tidak
formal. Dalam kaitan arti yang terakhir ini, kita biasa mengatakan,
misalnya, “karir si A sebagai pelukis cukup baik” dan si B mengakhiri
karirnya di bidang politik secara baik”, dan sebagainya.
Apapun artinya, karir amatlah penting bagi pegawai maupun bagi
organisasi. Menurut Walker (1980), bagi pegawai, karir bahkan dianggap
lebih penting dari pada pekerjaan itu sendiri. Seorang pegawai bisa
meninggalkan pekerjaannya jika merasa prospek keriernya buruk.
Sebaliknya, pegawai mungkin akan tetap rela bekerja di pekerjaan yang
tidak disukainya asal ia tahu ia mempunyai prospek cerah dalam karirnya.
Sebaliknya, bagi organisasi, kejelasan perencanaan dan pengembangan
karir pegawai akan membawa manfaat langsung terhadap efisiensi
manajemen. Dikemukakan oleh Walker (1980) bahwa turn over pegawai
cenderung lebih kecil di perusahaan-perusahaan yang sangat
memperhatikan pengembangan karir pegawainya. Di samping itu, penanganan
karir yang baik oleh organisasi akan mengurangi tingkah frustasi yang
dialami oleh pegawai serta meningkatkan motivasi kerja mereka. Oleh
karena itu, manajemen karir bukan hanya menjadi kewajiban bagi
organisasi, tetapi juga merupakan kebutuhan yang sama pentingnya dengan kebutuhan-kebutuhan lainnya.
2. Jalur Karir
Jalur karir adalah pola urutan pekerjaan (Pattern of Work Sequence)
yang harus dilalui pegawai untuk mencapai suatu tujuan karir. Tersirat
di sini, jalur karir selalu bersifat formal, dan ditentukan oleh
organisasi (bukan oleh pegawai).
Jalur karir selalu bersifat ideal dan normatif. Artinya dengan asumsi
setiap pegawai mempunyai kesempatan yang sama dengan pegawai lain, maka
setiap pegawai mempunyai kesempatan yang sama untuk mencapai tujuan
karir tertentu. Meskipun demikian, kenyataan sehari-hari tidak selalu
ideal seperti ini. Ada pegawai yang bagus karirnya, ada pula pegawai
yang mempunyai karir buruk meskipun prestasi kerja yang ditunjukkannya
bagus.
Dalam organisasi yang baik dan mapan, jalur karir pegawai selalu jelas
dan eksplisit, baik titik-titik karir yang dilalui maupun persyaratan
yang harus dipenuhi untuk mencapai tujuan karir tertentu.
Di lingkungan pegawai negeri, misalnya, dikenal jalur karir sruktural
dan fungsional. Seorang dosen di perguruan tinggi, sebagai ilustrasi,
boleh meniti karir di bidang struktural, boleh juga di bidang
fungsional. Secara struktural, ia boleh menjadikan ketua jurusan, ketua
program, pembantu dekan, dekan, pembantu rektor, dan bahkan rektor.
Namun, kalaupun ia tidak menuduki jabatan struktural tertentu, dosen
tersebut masih mempunyai kesempatan untuk meniti karir di jalur
fungsional, dari Asisten Ahli sampai ke tingkat tertinggi yaitu Guru
Besar.
Dalam hal ini, persyaratan untuk naik ke jabatan struktural tertentu
atau ke jenjang fungsional tertentu telah ditentukan dengan jelas dan
bahkan dilengkapi dengan ukuran-ukuran kuantitatif (cumulativ credit
point, CCP).
3. Tujuan Karir
Tujuan atau sasaran karir adalah posisi atau jabatan tertentu yang dapat
dicapai oleh seorang pegawai bila yang bersangkutan memenuhi semua
syarat dan kualifikasi yang dibutuhkan untuk melaksanakan jabatan
tersebut.
Yang penting dicatat, tujuan atau sasaran karir tidak otomatis tercapai
bila seorang pegawai memenuhi semua syarat yang harus dipenuhi. Misalnya
seorang kepala subagian tidak otomatis menjadi kepala bagian meskipun
ia telah memenuhi syarat untuk menjadi kepala bagian. Untuk menjadi
kepala bagian, ia harus memenuhi syarat-syarat yang seringkali di luar
kekuasaannya, misalnya ada tidaknya lowongan jabatan kepala bagian,
keputusan dan preferensi pimpinan, adanya kandidat lain yang sama
kualitasnya, dan sebagainya.
4. Perencanaan Karir
Perencanaan karir adalah salah satu fungsi manajemen karir. Perencanaan
karir adalah perencanaan yang dilakukan baik oleh individu pegawai
maupun oleh organisasi berkenaan dengan karir pegawai, terutama mengenai
persiapan yang harus dipenuhi seorang pegawai untuk mencapai tujuan
karir tertentu.
Yang perlu digarisbawahi, perencanaan karir pegawai harus dilakukan oleh
kedua belah pihak yaitu pegawai yang bersangkutan dan organisasi. Jika
tidak, maka perencanaan karir pegawai tidak akan menghasilkan rencana
yang baik dan realistis. Perencanaan karir ini akan dibahas lebih rinci
di bab ini.
5. Pengembangan Karir
Pengembangan karir adalah salah satu fungsi manajemen karir.
Pengembangan karir adalah proses mengidentifikasi potensi karir pegawai,
dan materi serta menerapkan cara-cara yang tepat untuk mengembangkan
potensi tersebut.
Secara umum, proses pengembangan karir dimulai dengan mengevaluasi
kinerja pegawai. Proses ini lazim disebut sebagai penilaian kinerja (performance appraisal).
Dari hasil penelitian kinerja ini kita mendapatkan masukan yang
menggambarkan profil kemampuan pegawai (baik potensinya maupun kinerja
aktualnya). Dari masukan inilah kita mengidentifikasi berbagai metode
untuk mengembangkan potensi yang bersangkutan.
6. Manajemen Karir
Manajemen karir adalah proses pengelolaan karir pegawai yang meliputi
tahapan kegiatan perencanaan karir, pengembangan dan konseling karir,
serta pengambilan keputusan karir.
Manajemen karir melibatkan semua pihak termasuk pegawai yang
bersangkutan dengan unit tempat si pegawai bekerja, dan organisasi
secara keseluruhan. Oleh karena itu manajemen karir mencakup area
kegiatan yang sangat luas. Manajemen karir ini akan kita bahas secara
leih rinci dalam bab ini.
7. Konseling Karir
Konseling karir adalah proses mengidentifikasi masalah-masalah yang
berhubungan dengan karir seorang pegawai serta mencari alternatif jalan
keluar dari berbagai masalah tersebut.
Dalam organisasi, terdapat berbagai masalah yang berhubungan dengan
karir pegawai. Ada yang tidak terlampau serius sehingga dapat dipecahkan
dalam tempo relatif cepat. Ada pula yang sangat serius sehingga
mengganggu pekerjaan si pegawai sendiri maupun pekerjaan rekan sekerja
lainnya. Dalam keadaan seperti ini, konseling karir sangat diperlukan,
baik oleh pegawai maupun oleh organisasi. Bahkan organisasi yang cukup
besar seringkali merasa perlu mempekerjakan seorang pakar (konselor)
yang khusus menangani masalah-masalah karir ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar